Jalan jalan ke Ungapan

Lama sudah tersiar kabar bahwa sedulur pecinta Mitsubishi Colt T120 di Malang Raya dan sekitarnya yang tergabung dalam MR.MC (Malang Raya Mitsubishi Colt T 120) akan menggelar acara ulang tahun pertama di Pantai Ungapan. Tetapi hingga hari H datang, saya belum juga tahu apakah saya bisa ikut merayakannya. 25 Pebruari, jam 9 pagi, saya menelpon salah satu sedulur colt Jember,om Henry, memastikan ihwal keinginannya untuk hadir di Malang, ternyata belum bisa berangkat karena masih kecapekan, baru selesai menangani rombongan besar tour ke luar Jawa. Saya merasa bingung, ingin hati berangkat, namun ada 2 agenda acara di lingkungan tempat saya tinggal yang akan digelar bersama warga, padahal disitu saya juga terdaftar sebagai salah satu pengurus inti. Di sisi lain, acara di Malang sangat sayang untuk dilewatkan. Apalagi terdengar kabar bahwa sedulur dari Bandung pun ikut datang merayakannya. Ah, moment langka ini sungguh berat untuk dilewatkan.

Saat itu istri saya sedang memasak, saya sampaikan keinginan saya untuk pergi ke Malang. Sedikit kaget mendengar kata kata saya, tapi dia pun terlihat semangat untuk segera berangkat. Padahal, dia punya tanggung jawab untuk menyiapkan masakan untuk acara besok paginya. Saya tanya, bisakah masakan itu dibuat sekarang saja? Dia menjawab, bisa! Senangnya hati ini mendengarnya. Saya yang saat itu sedang mencuci baju, langsung menuju mobil untuk cek air radiator dan oli mesin. Air dan oli bagus! hanya tekanan angin ban yang sedikit kurang. Selesai itu saya kembali menelpon om Henry, mengabarkan bahwa saya jadi pergi ke Malang. Saya masih punya harapan bahwa om Henry akan berubah pikiran. Tetapi ponselnya tidak aktif. Beberapa kali saya hubungi namun tetap gagal. Saya hubungi juga om Hafit, saya tahu dia ada acara final tournament bulutangkis, tetapi saya masih berharap dia jadi berangkat walau mobilnya pun sedang bermasalah. Saya hendak merayunya ikut bersama di mobil saya, walau saya tahu itu adalah hil yang mustahal. Walau tak ikut berangkat, om Hafit memberi semangat dan support serta titip salam untuk semua sedulur yang nanti hadir di Ungapan.

Baiklah, saya akan tetap berangkat walau hanya sendiri bersama keluarga. Dengan segera saya bersama istri menyiapkan semua kebutuhan perjalanan. Sedikit ribet memang, karena putra kami belum genap 5 tahun, semua keperluannya mulai baju ganti hingga mainan kesayangannya kami siapkan. Awalnya diperkirakan berangkat pukul 11, namun kami baru siap setelah lewat tengah hari. Tepat pukul 1 kami berangkat, bermodal keyakinan, kami bersemangat walau sendirian menuju Ungapan. Saya tahu, bahwa jadwal panitia saat itu adalah pemberangkatan semua rombongan dari titik transit terakhir di stadion Kanjuruhan menuju Ungapan, dan saya baru saja berangkat dari Jember. Terpaut sektar 170 km jauhnya. Itu tidak masalah! Saya tetap santai menikmati perjalanan ini.

Setelah sempat berhenti tambah angin ban di Rambipuji, sejam kemudian saya sampai di Tanggul, berhenti di sebuah minimarket untuk belanja bekal dan segalon air mineral. Disitu saya baru menghubungi mas Yoyok di Kepanjen mengabarkan ihwal keberangkatan saya. Saya minta tolong kepadanya untuk diberikan rute kota/kecamatan yang nanti harus saya lalui. Perjalanan kembali dilanjutkan, selang 10 menit kemudian sms pun diterima, berisi daftar urutan kota yang harus saya lalui agar tak salah arah. Rute ini pernah saya lewati sekitar 20 tahun yang lalu. Itupun saat malam hari dan saya hanya duduk di bangku belakang. Yang saya ingat jalannya berliku melewati pegunungan. Baru kemudian 5 tahun lalu saya ke jalur ini bersama siMbah, tetapi hanya sampai di Gladak Perak. *(siMbah adalah panggilan untuk mobil Colt T120 kami)

Sampai di Pasirian, mas Yoyok kembali menelpon saya. Mengabarkan bahwa rombongan baru sampai di Ungapan dan memastikan perjalanan saya tidak terkendala. Jalan sudah mulai berkelok dan menanjak. Cuaca yang cerah sore itu menambah keyakinan saya dalam perjalanan ini. Sayapun sampai di Gladak Perak. Kami menikmati pemandangan alam yang indah dari atas ketinggian. Si junior pun girang saat kami melewati pegunungan. Untunglah dia tidak mabuk walau jalanan terus berkelok menembus hutan. Malah dia terlihat bersemangat, menanyakan kenapa di hutan ini tidak terlihat kera? Saya menjawab sekenanya, bahwa semua kera sudah pulang ke rumahnya karena hari mulai sore. Kamipun sempat berhenti di sebuah tikungan yang lebar, jadi bisa parkir sebentar menikmati bentangan dataran luas di bawan sana. Indah memang, tapi karena takut kemalaman, kamipun segera melanjutkan perjalanan.

Sesampai di Pronojiwo, laju kami melambat karena sering bertemu dengan rombongan truk pengangkut pasir yang berjalan beriringan. Maksimal berjalan dengan kecepatan 30 km/jam. Dering telepon kembali terdengar dan saya melaporkan situasi perjalanan ke mas Yoyok yang sedikit terhambat oleh konvoi truk pengangkut pasir. Namun itu tidak mengurangi kegembiraan kami. Situasi jalan yang tidak terlalu ramai masih memberikan kesempatan pada saya untuk menyalip iring iringan truk dengan aman. Dan justru dengan situasi ini, si junior terlihat senang melihat lalu lintas kendaraan di sepanjang jalan yang berkelok.

Jalan yang dilalui kini sudah semakin lebar, dan pemandangan indah terasiring persawahan kadang terlihat di kanan kiri jalan. Kami masuk kota Dampit saat senja tiba. Perut sudah mulai lapar dan kami ingin beristirahat sebentar. Terlihat sebuah SPBU dan kamipun langsung memutar ke area parkir. Selesai menyegarkan badan saatnya buka bontrotan. Kamipun makan dengan seksama dengan gaya standing party. Bukan karena tak ada tempat duduk, tapi karena bokong masih terasa panas setelah perjalanan selama 4 jam.

Untuk kesekian kali mas Yoyok kembali menelpon kami. Saya berguman dalam hati, betapa perhatian dan pedulinya kepada kami hingga keberadaan kami selalu dipantau. Ketika saya bilang sudah sampai Dampit, terdengar dia berkata “oh.. sudah dekat wes…”. Kami di ingatkan, nanti kalau sampai di Gondanglegi belok kiri ke arah pantai Balekambang. Dirasa cukup, kami melanjutkan perjalanan. Sisa rona mentari semburat kemerahan masih terlihat diujung barat. Sembari jalan saya tanya ke co driver saya, apakah logistik masih aman?, ternyata perlu tambahan. Dan pula kami lupa membawa tongsis jadinya harus beli yang baru, sayang bila moment pertemuan nanti tak bisa selfie bersama. Kamipun masih sempat berhenti di Talok, untuk memenuhi kotak pertolongan pertama pada rasa lapar. Maklum, karena kami datang terlambat, kami harus bersiap untuk segala kemungkinan. Terlebih karena kami belum tahu medan di lokasi acara. Dirasa semua sudah lengkap, kami lanjut ke arah Gondanglegi. Papan petunjuk arah menuju pantai Balekambang jelas terlihat dan kamipun langsung banting kiri.

Secara lokasi, Pantai Ungapan ada di sebelah timur pantai Balekambang. Karena saya belum sekalipun ke daerah ini, saya minta ke mas Yoyok untuk diberikan rute yang aman dan nyaman. Tak apa walau harus sedikit memutar yang terpenting aman dan selamat sampai tujuan. Kini kami sudah mengarah ke selatan. Karena ini sudah malam dan saya tak menguasai medan, saya gunakan bantuan navigasi Google Map untuk membantu saya mengantisipasi setiap belokan dan tikungan. Kesan pertama jalannya bagus, lebar dan tak terlalu ramai. Aman untuk memacu siMbah sedikit lebih kencang. Tertera di layar navigasi jarak yang ditempuh tersisa sekitar 30an kilometer, saya lupa angka persisnya.

Setelah 5 km pertama lepas dari Gondanglegi, kondisi jalan mulai berubah, rumah semakin jarang, lalu lintas menjadi sepi dengan jalan yang mulai berlenggak lenggok. Sebelah kanan kiri jalan kini berubah menjadi lahan tebu dan tanah kebun tanpa pemukiman. Hmmm…., saya berguman dalam hati, ternyata apa yang saya bayangkan meleset! Malang selatan tidak seperti Jember selatan. Ini adalah awal dalam perjalanan ini dimana saya sadar betapa bodohnya saya, ya benar, saya terlalu menggampangkan situasi padahal saya hanya bersama keluarga kecil saya, menembus daerah sepi yang tidak saya kenal di atas mobil tua di malam hari. Saya baru menyadari kenapa mas Yoyok selalu memantau saya, akhirnya saya paham akan kekhawatirannya. Saat itu sudah setengah 8 malam. Saya tetap konsentrasi melihat jalan dan navigasi, si junior masih asik dengan mainannya di bangku belakang. Saya ngobrol dan sesekali bercanda dengan co driver supaya suasana tak terlalu tegang, walau saya tahu dia mulai terlihat resah, sama seperti saya.

Di depan terlihat pertigaan yang sangat sepi, jalan besar yang saya lalui serong ke kanan, tetapi navigasi menyuruh saya lurus. Sedikit ragu, saya ikuti perintah navigasi walau co driver mengingatkan saya untuk serong kanan setelah membaca petunjuk arah yang ada di tengah pertigaan. Yang membuat saya yakin, jalan yang lurus walaupun sempit tetapi bagus. Saya melaju pelan di tengah kebun tebu. Jalan belok ke kiri, melewati jembatan kecil lalu belok kanan. Di depan samar samar saya lihat temaram cahaya lampu. Sedikit lega karena saya berencana akan tanya ke penduduk setempat arah menuju pantai. Tapi setelah semakin dekat.. Alamak..!!! ternyata bukan lampu rumah melainkan lampu penerangan jalan makam! Ya benar, di kanan dan kiri kami adalah makam.

Saya tetap jalan dan tetap berusaha terlihat tenang, syukurlah sekitar 500 meter setelahnya saya melihat rumah penduduk. Saya berhenti dan segera menuju ke salah satu rumah. Saya ucapkan salam, terlihat dari dalam seorang bapak bapak mengintip keluar cendela tetapi terlihat ragu membuka pintu. Dia bergeser ke cendela sebelahnya tapi tetap diam. Saya ulangi salam saya dan kemudian ada seseorang yang mungkin anaknya, keluar dari kamar dan langsung membuka pintu. Anak ini terlihat (maaf) sedikit lemah mental. Tapi karena dialah saya akhirnya dapat bertanya setelah semua anggota keluarga keluar bersama sama. Mereka terlihat ragu dan curiga. Saya kemudian bertanya kemana arah menuju pantai, baru lah hilang kecurigaan di mata mereka terhadap saya. Mereka menjawab bahwa saya salah arah. Mereka pun kaget ketika bertanya saya dari mana dan saya jawab dari Jember. Akhirnya saya balik arah, kembai melewati pemakaman menuju jalan utama.

Jalanan masih sepi dan tak ada pemukiman, sekitar 2 km setelahnya mulai terlihat rumah penduduk. Semakin ke selatan semakin ramai. Saya ingat namanya Bantur, mungkin sebuah kecamatan. Saya kembali menepi, bertanya kepada orang yang saya temui, tapi saya mendapatkan info yang kurang jelas. Saya jalan lagi dan Google Map kembali menggoda saya! Navigasi mengarahkan saya untuk belok kiri. Kali ini saya berusaha tidak gegabah. Saya kembali berhenti, memperhatikan peta lebih seksama, rute yang ditawarkan melewati jalan desa. Terlihat di rute tersebut beberapa keterangan seperti warung mie, konter pulsa dll. Berarti mobil Google Map sudah pernah lewat situ, pikir saya. Berbekal keyakinan saya memutuskan mengikuti petunjuk navigasi.

Sayapun belok kiri, masuk ke jalan kecil yang dikeraskan dengan cor semen. Lebarnya pas semobil, sempit. Jalannya menurun sedikit tajam, hingga lampu jauh saya pun tak mampu melihat keadaan di depan yang gelap. Karena ragu, saya berhenti dan berjalan mundur. Saat berjalan mundur di turunan inilah si junior ketakutan. Karena badan siMbah bergetar kencang. Saya berusaha menenangkannya sebelum saya turun untuk bertanya kepada warga, yang terlihat duduk santai di teras. Saya bertanya, “apakah mobil bisa lewat terus, pak?”. “Bisa mas” jawab seorang bapak. Saya masuk mobil kembali sambil menghibur si junior agar berhenti menangis.

Sudah lama memang saya beli cross joint, tetapi belum sempat terpasang. Mungkin itu penyebab getaran hebat waktu mundur tadi. Handbrake saya lepas, perlahan meniti turunan, hingga titik balik memanjat tanjakan yang hanya bisa dilumat dengan gigi 1. Sampai di ujung langsung bertemu pertigaan dengan aspal hotmix super mulus dan saya langsung belok kanan. Untuk beberapa saat saya merasa menang! Ah, saya tak salah pilih, walau jalan desa tapi aspalnya mulus.

Kami lanjut bergerak ke arah selatan dan suasana sudah kembali normal. Tapi, itu tak berlangsung lama, selang 15 menit jalan kembali sepi tanpa pemukiman. Ditambah bonus kontur jalan yang naik turun hingga memaksa siMbah hanya mampu dengan gigi 1. Tanjakannya suka main “ciluk-Ba!”. Suka belok di tengah dengan aspal yang sebagian terkelupas. Navigasi masih berfungsi dengan normal. Ada dua hal yang terus saya pantau, jalan dan sinyal.

Saya mulai khawatir akan kondisi siMbah. Terbesit di hati, jalan yang lumayan ekstrim mudah-mudahan siMbah tidak sampai trouble. Andaikata terjadi masalah, selama masih ada sinyal seluler, saya masih bisa mengirim lokasi saya ke mas Yoyok via WhatsApp dan minta bantuan. Di sisi lain ngeri juga membayangkan mobil tua ini mogok di tengah hutan dengan jalan yang sempit dan naik turun tanpa ada rumah satupun. Ah, itu hanya ilusi!

Saya terus melanjutkan perjalanan mengikuti irama jalan dan mesin siMbah. Dalam situasi seperti ini, di tengah medan yang saya tidak kenal di malam hari, yang saya tunggu adalah terlihatnya kerlipan lampu. Dengan begitu saya tahu bahwa masih ada rumah warga di depan sana dan mudah-mudahan bukan lampu penerangan makam seperti sebelumnya. Setelah sekitar setengah jam jalanan mulai landai, mulai terlihat satu – dua rumah penduduk. Hingga saya lihat ada segerombol anak muda yang nongkrong di depan sebuah toko.

Sambil menenangkan hati yang galau, saya pun bertanya kepada mereka. “Dik, jalan ke Ungapan apa masih jauh?” Dengan pertanyaan seperti ini, lazimnya jawaban yang diharapkan adalah “oh, masih jauh” atau, “sudah dekat mas”. Tetapi, bukan itu yang saya dengar. “Loh.., masnya kok lewat sini? Harusnya masnya di Bantur tadi terus ikut jalan besar. Memang agak jauh tapi jalannya bagus”. Modiyarrrr….! Kata saya dalam hati. Duh Gusti kenapa tadi saya mengabaikan petunjuk dari mas Yoyok..? Saya terpengaruh nafsu ingin cepat sampai Ungapan. Mas Yoyok sebelumnya selalu mengingatkan, ikuti jalan menuju Balekambang sampai ketemu Jalur Lintas Selatan, lalu ambil kiri hingga sampai di Ungapan. Oke lah, bubur ga akan mungkin kembal jadi nasi! Saya bertanya lagi, “tapi apa masih bisa saya lanjut lewat jalan ini?” Adik itu menjawab “bisa, mas. Tapi sekitar 1 kilometer lagi aspal habis, berganti makadam”. Pertanyaan kedua, “apa di sepanjang jalan di depan nanti masih ada rumah penduduk?”, “ada mas, walau jarang tapi ada” jawabnya.

Sedikit lega rasa di hati. Setelah mengucap terimakasih kami lanjut gas lagi. Mas Yoyok kembali menghubungi, dengan sedikit malu saya kabarkan bahwa saya sudah sampai di desa Tumpakrejo. Mas Yoyok sepertinya juga tidak mengenal desa ini. Dia mengabarkan bahwa nanti, semakin dekat dengan JLS (Jalur Lintas Selatan), sinyal seluler semakin lemah dan bahkan di beberapa spot akan hilang. Baiklah, jalan makadam dan minim sinyal. Hanya berbekal ucapan “Bismillah” kami tetap lanjutkan perjalanan.

Saya berpedoman, selama masih ada rumah warga, bila terjadi masalah dengan siMbah, saya masih bisa minta pertolongan atau menumpang menginap dengan aman. Jalan makadam ini bisa dilalui dengan kecepatan hanya dibawah 5 km/jam, lebih lambat dari orang berjalan. Batunya kebanyakan sebesar kepala bayi jadi saya harus berhati-hati agar tak mengenai perangkat kaki kaki siMbah. Di tengah kegelapan kami susuri jalanan desa Tumpakrejo dengan tetap berdoa agar diberikan kelancaran. Tak terasa beberapa waktu berlalu, ternyata ujung desa telah terlewati dan kini kami kembali berada di tengah kebun tebu dan hutan disebelah kanan. Jalan pun makin berbatu dan bergelombang, serta sinyal seluler di ponsel terlihat muncul tenggelam.

Ya sudahlah, kami hanya pasrah meneruskan perjalanan ini. Mau putar balikpun saya tak yakin apa cukup jalan ini. Karena memang sempit, hanya sebadan mobil lebih sedikit. Dari depan terlihat lampu motor menuju arah kami. Ah, masih ada teman rupanya. Kondisi jalan seperti ini terlihat motor itu melaju kencang sekali. Saat berpapasan, baru terlihat jelas ternyata adalah penjual bakso. Kamipun heran, kenapa dia lari kencang sekali. Apa dia tak khawatir perangkat jualannya jatuh berhamburan karena terpental oleh kubangan jalan. Mudah-mudahan saja tidak. Kamipun sempat sedikit terhibur oleh ulahnya sambil melihatnya hilang di ujung kaca sepion, dan masih pula terlihat membalap.

Lampu jauh terus saya nyalakan, pantau lobang dan pantau sinyal. Di depan terlihat belokan, jalannya menyempit dan berlumpur. Saya sempat berhenti, ragu, khawatir terjebak di kubangan lumpur ditengah antah berantah ini. Sudah kepalang tanggung! Tak ada pilihan untuk kembali. Saya akan libas genangan lumpur itu secepat mungkin. Dibelakang saya lihat si junior sudah terlelap, jadi tak masalah kalau saya sedikit pakai gaya pembalap. Perlahan simBah bergerak, dan menjelang tikungan, saya injak gas lebih dalam, kubangan lumpur berhasil di lalui dengan gaya ala rally Paris-Dakkar. Lewat kaca cermin kabin, saya intip si junior, aman, dia masih tetap terlelap. Saat saya kembali melihat ke depan, terlihat garis putih panjang terbentang di tepian aspal hitam. Wow…!!! Ternyata tadi itu adalah tikungan terakhir menjelang JLS. Saya heran dengan perasaan saya sendiri. Yang terlihat adalah sebuah jalan, tetapi bagi kami saat itu seperti melihat syurga. Syukurlah medan menantang telah berhasil kami lalui dengan tanpa kendala. Kejadian malam ini tak akan terlupa bagi kami. Nama desa Tumpakrejo akan selalu terngiang bersama suara deru mesin siMbah kemanapun kami pergi.

Melaju di JLS di malam hari serasa berada di trek balap pribadi. Kita bebas saja mau ambil ruas kiri atau kanan jalan, membuat serasa berkendara di Perancis dengan mobil Inggris. Ahaha.. itu hanya angan, ungkapan kegembiraan kami karena sebentar lagi dapat berkumpul dengan pecinta colt dari berbagai penjuru daerah di pulau Jawa. Setelah 7 kilometer menembus JLS kami melihat panggung di kanan jalan. Itu dia, pantai Ungapan sudah di depan mata. Segera kami masuk dan disambut sedulur MRMC mas Panca dan mas Ferry. Kami parkir di sebelah mobil sedulur dari Purwodadi – Jawa Tengah.

Waktu menujukkan pukul 21.30. Di panggung terdengar acara pembagian doorprize. Saya tak bisa merapat karena si junior terbangun dan saya harus menemaninya. Tak lama mas Yoyok muncul disusul mas Eko Antilengket, mas Wida Tri Bowo dan mas Prast Her. Senang sekali rasanya bertemu dengan mereka kembali, Mas Eko pamit sebentar kemudian kembali dengan membawa piagam untuk kami. Piagam ini jadi penanda perjuangan kami mencapai tempat ini dan sebagai bukti kepada sedulur pecinta Colt di Jember bahwa kedatangan kita sudah diakui. Hanya ada 4 mobil di barisan saya, tetapi di depan saya berjajar rapi sekitar 50an mobil. Ada dua sap, jadi semua sekitar 100 mobil lebih yang hadir.

Barisan depan di dominasi siMbah Bagong. Julukan untuk mobil Misubishi Colt keluaran awal (1969 – 1974), terlihat lebih antik karena lampu utamanya besar seperti mata belo. Selebihnya jenis mata 4 yang terakhir diproduksi tahun 1981. Di depan saya persis adalah devile dari Mitsubishi Colt Fans Temanggung (MCFT), di sebelahnya berbaris rapi sedulur dari Colt Jogja Istimewa (CJI). Samar samar terlihat mobil yang nampak seperti foto yang saya lihat siang tadi dari Colt Owner Parahyangan (COP), ternyata betul. 2 Station wagon dan 1 Pickup adalah tamu terjauh yang hadir disini. Luar biasa semangat touringnya, menempuh jarak hampir 800 kilometer dari Bandung dan selamat tanpa kendala hingga mendarat di Ungapan. Di ujung barat nampak barisan Colt Plat AE, saya tak tahu pasti personilnya kecuali mas Alwi Tri Nugroho sang driver Sunan Kalijaga yang populer dipanggil SKJ. Barisan ujung timur di isi sedulur dari Solo digawangi oleh Mbah Wiro sebagai punggawa Priyayi Colt Solo (Picolo).

Saya tahu mas Dhani dari Lumajang hadir disana tetapi saya belum menemukan mobilnya. Malam itu saya tak bisa jauh dari mobil karena si junior tak kunjung terlelap. Mungkin karena tadi sudah tertidur sejak dari Tumpakrejo sampai Ungapan jadi binar matanya terlihat terang seperti jam 7 sore. Kami menggelar tikar di atas pasir dan merebahkan badan, sesekali bercanda hingga perut kembali terasa lapar. Panitia menyediakan konsumsi tapi si junior tak mau kesana. Jadilah sisa bekal dihabisi hingga rantangnya bersih mengkilap, ditambah mie instan panas untuk menenteramkan perut dan menghangatkan badan. Jam 1 malam anggota keluarga saya baru bisa tidur semua. Saya masih ingin ngobrol tetapi ketika keluar mobil, kebanyakan sudah tertidur pulas. Hanya beberapa orang yang kurang saya kenal masih asik membakar jagung yang disediakan panitia. Saya baru ingat, ini sudah jam 2, dan tidak banyak waktu tersisa untuk istirahat. Padahal besok sebelum siang sudah harus kembali ke markas. Saya pun kembali ke kabin siMbah dan merebahkan badan di bangku depan.

Setengah 5 pagi saya terbangun, begitu pula istri saya. Langit masih gelap suasana pun masih senyap. Badan terasa lengket karena sore kemarin saya junior saya tak membolehkan saya mandi ketika berhenti istirahat di SPBU. Di tempat seperti ini, biasanya persediaan air terbatas. Saya bersama istri sepakat untuk segera mandi. Kami bergantian berjaga di mobil karena khawatir si junior tiba tiba terbangun. Setelah giliran saya mandi, ternyata fasilitas MCK disini sangat bagus. Airnya bersih dan melimpah. Tempatnya juga masih baru dan bersih. Saya bisa mandi dengan bebas dan puas. Selesai mandi, saat berjalan menuju parkir, semakin jelas deretan parkir peserta yang ternyata lebih banyak dari yang terlihat semalam. Kawasan pantai mulai terang dan menampakkan keindahan alamnya.

Pagi itu saya segera merapat ke panggung, ingin bertemu para punggawa MRMC yang telah sukses menggelar acara ulang tahunnya. Saya bertemu mas Heru Mbois sang ketua panitia, mas Enk Soedigdo, Kang Najib, Puger NM dan akhirnya pak Komendan Titho Andi. Setelah ngobrol dan selfi bersama saya bergeser ke rombongan Cobra dari Blitar bersalaman dengan sang punggawa Bpk. Hari. Lanjut klenang klenong bertemu dengan mas Alwi dari Ngawi dan mas Tatag Wilaksono dari Jogja. Ketemu pula dengan mas Facktory Ebonefo dan dulur malang yang ramah tapi saya lupa tak menanyakan namanya.

Selesai foto bersama saya mencari mantan kekasih saya. Ternyata dia sudah duduk manis di tepi pantai, kamipun berselfie ria dengan latar keindahan pantai Ungapan. Terlena oleh suasana, kami mendapati si junior menangis di dalam mobil. Rupanya dia terbangun sendirian saat kami berkeliling area pantai. Kasihan sekali dia, kamipun merasa bersalah karena meninggalkannya sendirian. Tak biasanya dia bangun sepagi ini, biasanya sekitar jam 8 lebih dia baru membuka mata. Ah, mudah mudahan dia tak terlalu marah. Sayapun merayunya untuk main pasir di pantai dengan mainan mobil mobilan yang kami bawa dari rumah. Si junior akhirnya tak mau lepas dari saya. Karena ini pula saya tak bisa mengikuti agenda acara panitia di pagi hingga siang itu.

Untuk menebus dosa, saya menemani si junior bermain di pantai hingga siang hari. Saya hanya bisa mendengar dari kejauhan, rupanya panitia menggelar senam pagi dan games untuk semua tamu yang hadir. Dan masih ada pula acara bagi bagi onderdil gratis oleh sponsor mas Widha Tri Bowo dari Kepanjen.

Hari sudah semakin siang, setelah mengeluarkan jurus pamungkas, saya berhasil mengajak si junior untuk mandi. Disela waktu, saya masih sempat bertemu dan berfoto bersama Mbah Wiro, dan akhirnya terlihat mobil pick up merah punya mas Dhani, satu satunya mobil yang nanti pulang searah dengan saya. Acara sudah hampir selesai, mas Alwi datang menghampiri saya, “mas, ada yang mau gabung ke arah lumajang, mas Arif dari Salatiga mau ke rumah saudaranya di Tempeh Lumajang ingin gabung” saya jawab “Okey.. sip mas!”. Sekitar pukul 10, para tamu bergantian meninggalkan Ungapan, kecuali Jecoco dari Jepara yang sudah cabut sejak pagi tadi. Saya dengar ada agenda lain jadi harus kejar waktu.

Saya pun berkeliling mencari sedulur yang saya kenal untuk berpamitan, dan setelah semua siap, sayapun berangkat pulang menuju Jember. Acara ini sangat berkesan bagi saya dan keluarga. Kami benar benar menikmati suasana disana. Sekali lagi saya ucapkan selamat kepada seluruh Panitia MRMC 1st Anniversary telah sukses menggelar acara dengan meriah dan penuh suasana kekeluargaan. Sebuah moment berkumpulnya mobil tua yang didatangi para tamu dari luar kota, bahkan dari luar propinsi.

Yang membuat moment ini makin berkesan, mobil kami adalah titipan dari orang tua yang dibeli semenjak almarhum ibu masih ada. Mudah mudahan disana beliau bisa melihat, bahwa mobil peninggalannya masih bisa mengantar kami jalan-jalan jauh dan menambah persaudaraan dengan para penggemar Mitsubishi Colt seantero Jawa.

Kini kami tak sendirian, 3 mobil berjalan beriringan, saya, mas Dhani dan mas Arif. Rutenya pun berbeda dari ketika kami berangkat. Sementara yang lain menuju barat, kami langsung menuju arah timur. Kami akan melewati Sendang Biru, lanjut Sitiharjo dan tembus Turen. Selepas Jalur Lintas Selatan, jalanan kembali naik turun dan berkelok kelok melintasi pegunungan. Di beberapa tempat nampak pemandangan indah di kanan kiri jalan. Mas Dhani memimpin rombongan dengan gaya santai. Tak terasa hampir 2 jam kami meliuk liuk menembus kawasan Malang selatan, akhirnya sampai di Turen jam 12 siang. Perjalanan dilanjutkan hingga kami berhenti di sebuah warung lalapan jam 2 siang, kami makan bersama dan saat itu mendapat traktiran dari mas Arif. Dirasa cukup beristirahat perjalanan kembali dilanjutkan. Tak banyak cerita hingga kami sampai di Tempeh. Kami menepi dan saling bersalaman. Mudah mudahan dapat bersua kembali di lain waktu, tak lupa kami berfoto selfie bersama. Mas Arif memberikan kami sticker besar Colt Lovers sebagai kenang kenangan. Tinggal saya dan mas Dhani yang akan mengantar saya keluar kota Lumajang. Sampai di tengah kota saya kode supaya menepi. Saya bilang kalau saya masih hafal jalan keluar dari kota ini, kamipun berpamitan.

Sedari pagi si junior belum makan nasi, setelah nambah BBM di SPBU kawasan Wonorejo, kami berhenti lagi di sebuah warung di dekat lampu merah pertigaan jalan lingkar luar Lumajang. Niatnya beli nasi dibungkus, tapi akhirnya kami semua makan sambil menunggu waktu maghrib lewat.

Tiba tiba saya kepikiran ingin mampir ke rumah om Hafit, kebetulan selama ini saya belum sempat silaturahmi ke rumahnya. Saya pun menceritakan jalannya acara di Ungapan. Dia terlihat kecewa dan sedikit kesal. Karena saat MRMC touring ke Papuma Oktober lalu dia juga gagal datang ke acara. Lanjut saya mencari rumah H. Wiwid. Saudara baru penggemar Colt yang rumahnya satu desa dengan om Hafit. Karena sudah malam, saya hanya bersalaman dan tak sempat masuk ke rumahnya. Kami segera bergegas pulang, dan syukur alhamdulillah, kami selamat sampai kembali ke rumah. Tepat diwaktu yang sama, 24 jam yang lalu saat kami sampai di Pantai Ungapan.

Kenikmatan berpergian ternyata tak melulu tentang apa yang akan terjadi di tempat tujuan. Di dalam kabin mobil tua ini, banyak kenangan selama perjalanan yang tak terlupakan. Kami membahas apa saja yang terlihat selama perjalanan. Mulai dari kondisi jalan, tulisan lucu di bak truck, atau kelakuan tak biasa pengendara di jalan yang membuat kami gemas dan bahkan terpingkal. Perjalanan yang berkesan adalah perjalanan yang tak terhimpit waktu. Kita bisa berhenti, tidur, jalan lagi dengan bebas. Bahkan tujuan pun bisa menyesuaikan. Itulah sekelumit cerita tentang perjalanan bersama mobil tua yang penuh kesan dan makna, yang sebagian besar hanya dapat kami rasakan dalam hati, yang tak mampu diungkapkan dengan kata-kata. Terimakasih kepada Tuhan YME atas segala limpahan berkahnya, juga untuk sedulur pecinta colt dimanapun berada, semoga kita dapat bersua kembali dalam acara pertemuan berikutnya. Salam Colt Lovers! Eng Ing Eng… 😀

Advertisements

9 thoughts on “Jalan jalan ke Ungapan

  1. M. Faizi says:

    Saya baru ngerti JLS itu setelah membaca hampir tuntas, yaitu pada bagian-bagian belakang. Sungguh ini merupakan catatan yang berharga meskipun saat ditulis mungkin seperti tidak begitu penting. Terima kasih, Kang Juky, sudah berbagi pengalaman.

    Termasuk hal yang saya suka pada bagian ini adalah ketika mencapai desa Tumpakrejo yang sepi. Namun bagian yang paling berkesan adalah paragraf kelima sebelum akhir, bagian ini: “Yang membuat moment ini makin berkesan, mobil kami adalah titipan dari orang tua yang dibeli semenjak almarhum ibu masih ada. Mudah mudahan disana beliau bisa melihat, bahwa mobil peninggalannya masih bisa mengantar kami jalan-jalan jauh dan menambah persaudaraan dengan para penggemar Mitsubishi Colt seantero Jawa.”

    • yubroz says:

      Terimakasih atas komentarnya pak Faizi. Sudah meluangkan waktu membaca tulisan saya. Seperti saran panjenegan sebelumnya, bahwa perjalanan perlu di tuliskan dalam sebuah cerita, baru ini yang menurut saya layak. Mohon pak koreksinya supaya nanti kalau ada bahan lagi bisa tertulis lebih rapi. Betul pak, sebenarnya paragraf itu yang membuat setiap perjalanan dengan simBah jadi bermakna. Sekali lagi terimakasih pak, foto menyusul, karena saya menulis dan mengunggah pakai ponsel. Segera disunting dengan PC pinjaman di waktu luang 😉

      • yubroz says:

        Siyyapp pak terimakasih banyak koreksinya, apa ada batasan / standar jumlah kata atau paragraf untuk cerita pendek pak?

      • M. Faizi says:

        istilah cerita pendek itu identik dengan cerita rekaan. dan ini esai perjalananan, bukan rekaan. kalau cerpen itu biasanya 6-8 halaman. kalau laporan perjalanan seperti ini saya kira enggak dibatasi karena memang itu apa adanya, tergantung bagaimana kita mengolahnya

      • yubroz says:

        Mantab terimakasih ilmunya pak, kepanjangan JLS sudah saya tambahkan di awal saya menyebutnya, kemudian foto juga sudah dipasang, terimakasih untuk masukannya pak 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s